Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunda. Tampilkan semua postingan

Asal-Usul Suku Sunda

Selasa, April 19, 2011 0 Komentar

Fakta Sejarah Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang

Ditulis oleh Dedi Mulyadi

Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? (Ada sebuah fakta yang dapat dianggap dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).

Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).

Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).

Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat ‘sesembahan’ orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi ‘sesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya. Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem ‘sesembahan’ yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.

Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau ‘maung’, tapi ‘sima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.

Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan ‘tata - subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongo” fungsinya sebagai ‘mnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.

Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?

Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).

Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf ‘hunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.

Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba ‘trappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?

Salah satu ekspedisi Kontiki - Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.

Pembuktian ekspedisi Kontiki - Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis -- yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol -- ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.!

Seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif.

Sumber :http://saungdedimlyd.web.id/artikel/sosial-budaya-ekonomi/119-fakta-sejarah-asal-usul-orang-suku-sunda-adalah-suku-pendatang.html

Blog khusus tentang budaya Sunda : http://sundasamanggaran.blogspot.com

SITU GEDE WISATA FAVORIT DI TASIKMALAYA

Kamis, Maret 03, 2011 0 Komentar


TERKENAL sebagai kota santri, Tasikmalaya memiliki beberapa potensi wisata yang cukup mengagumkan. Salah satunyam Situ Gede. Oleh warga setempat, danau alami ini lebih dikenal dengan nama Situ Ageng.

Kawasan ini memiliki luas lebih kurang 47 hektare dengan kedalaman air antara 1,5 meter sampai dengan 6 meter. Situ Gede menjadi tempat tujuan wisata favorit karena danau ini merupakan obyek wisata alam satu-satunya yang ada di wilayah pemerintahan Kota Tasikmalaya dan dekat dengan pusat kota.

ASAL-USUL NAMA TASIKMALAYA

0 Komentar

Seperti kita ketahui bahwa nama "Tasikmalaya" kini dipakai untuk 2(dua) nama hierarki pemerintahan daerah di Priangan Timur.
Yaitu Kabupaten Tasikmalaya dengan luas wilayah sekitar 2.563,35 km² dengan jumlah kepadatan penduduk sekitar 642 jiwa/km² dan Kota Tasikmalaya dengan luas wilayah sekitar 171,56 km2 dengan kepadaan penduduk sekitar 3.600,9/km² . Nah, mengenai asa usul nama Tasikmalaya itu sendiri yang dahulu bernama Sukapura yang didirikan oleh Sultan Agung dari Mataram pada 9 muharam tahun alif ada 2(dua) versi yang berkembang di masyarakat saat ini. Pertama, nama Tasikmalaya di ambil dari 2(dua) kata Keusik dan Ngalayah
yang dalam bahasa sunda berarti Keusik adalah pasir dan Ngalayah adalah bertebaran jadi kalau kita tarik secara garis besar berarti pasir yang bertebaran. Ya, seperti kita ketahui akibat dari letusan Gunung Galunggung yang sangat dahsyat pada tahun 1822 mempunyai pengaruh besar terhadap Kabupaten Sukapura pada waktu itu, dengan banyaknya pasir menyelimuti Kabupaten Sukapura maka daerah ini pun berubah nama menjadi Keusik Ngalayah dan kemudian menjadi daerah yang kita kenal sekarang yaitu Tasikmalaya.
Kemudian, pendapat yang kedua yaitu Tasikmalaya berasal dari 2(dua) kata juga yaitu Tasik yang yang artinya laut, telaga atau air yang menggenangi daerah tertentu dan Malaya yang memiliki pengertian jajaran gunung-gunung. Nah, toponim tadi mengandung makna bahwa keberadaan gunung yang mencapai jumlah ribuan laksana air laut(banyaknya)(Permadi, 1975: 3). Secara geologis, letusan yang diakibatkan oleh gunung tersebut mengakibatkan terbentuknya jurang-jurang yang terjal yang membentuk sebuah formasi sepatu kuda ke arah timur Gunung Galunggung. Nah, setelah beberapa tahun letusan dahsyat yang diakibatkan, bermunculanlah bukit-bukit kecil(hillocks) yang berjumlah sekiar 3.647 buah. Bukit-bukit kecil itulah yang kemudian memperkuat ciri khas geografis Kabupaten dan Kota Tasikmalaya(Furuya, 1978:592; Zen, 1968: 62). Tapi sayang sekarang ini bukit-bukit kecil yang berada dipusat Kota Tasikmalaya sudah hampir tidak ada karena diambil pasirnya dan dijadikan perumahan dan kawasan pertokoan. Yang tertinggal sekarang hanyalah nama-nama bukitnya saja di tengah Kota Tasikmalaya.
Nah, berdasarkan uriaian diatas, beberapa orang berpendapat bahwa nama Tasikmalaya sendiri itu lahir dan mulai dipergunakan dalam administrasi pemerintahan setelah Gunung Galunggung meletus dahsyat pada tahun 1822(Ekadjati et al., 1975: 5: Marlina, 2007: 36). Hal tersebut diperkuat oleh laporan Residen Priangan pada tahun 1816 bahwa Tasikmalaya belum dipergunakan sebagai nama suatu distrik yakni wilayah pemerintahan yang berada di bawah kabupaten(de la Faille, 1895: 53). Namun, dalam administrasi pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1820 nama Tasikmalaya sudah dipergunakan. Pada administrasi pemerintahan Hindia belanda nama Tasikmalaya di pergunakan dengan nama Distrikt Tasjikmalaija op Tjitjariang dengan wilayahnya sepanjang 37 pal(Statistiek van Java. 1820). Yah, jadi bisa diperkiran nama Tasikmalaya pertama kali mulai digunakan sekitar tahun 1816-1820an.


Sumber : http://azgi.blogspot.com/

Followers